Berikut
adalah 5 materi fisika dasar yang akan dibahas beserta dengan output program
yang menyertai contoh-contoh soal sebagai implementasi program yang telah kami
buat:
1.)
DAYA LISTRIK
2.)
ENERGI
LISTRIK
3.)
SUHU
4.)
ENERGI
KINETIK
5.)
USAHA
1.) DAYA LISTRIK
Daya Listrik – Masih ingatkah kamu konsep
daya saat belajar di kelas VIII? Pengertian daya pada mekanika menjadi
dasar penurunan daya pada listrik dinamik. Pada mekanika, yang dimaksud dengan
daya adalah kecepatan melakukan usaha. Adapun, pada listrik dinamik,
daya listrik adalah jumlah energi listrik yang digunakan tiap detik.
Besar daya listrik dirumuskan sebagai berikut.
dengan:
P = daya listrik
satuannya watt (W)
V= tegangan listrik satuannya volt (V)
I = kuat arus listrik satuannya ampere (A)
V= tegangan listrik satuannya volt (V)
I = kuat arus listrik satuannya ampere (A)
Satuan daya listrik dalam SI adalah watt (W). Untuk daya listrik yang besar menggunakan satuan kilowatt (kW) atau megawatt (MW), dimana
1 kW = 1.000 watt = 103 watt
1 MW= 1.000.000 watt = 106 watt
Contoh Soal Daya Listrik
1. Lampu dipasang pada tegangan 220
V mengalir arus listrik 500 mA. Tentukan besar daya
pada lampu.
Penyelesaian:
Diketahui:
V = 220 volt
I = 500 mA = 0,50 A
Ditanyakan: P= … ?
Jawab:
P = V x I
P = 220 u0,5
P = 110 watt
P = 220 u0,5
P = 110 watt
2.) ENERGI
LISTRIK
Energi Listrik – Energi listrik dapat
berubah menjadi bentuk energi lain. Untuk mengubah energi listrik menjadi
energi lain diperlukan alat listrik. Setrika merupakan alat listrik yang
memiliki hambatan, jika digunakan memerlukan tegangan, arus listrik, dan waktu
penggunaan. Hambatan, tegangan, kuat arus, dan waktu itulah yang memengaruhi besar
energi listrik. Bagaimanakah merumuskan hubungan energi listrik dengan
hambatan, tegangan, kuat arus, dan waktu? Untuk menjawab pertanyaan di
atas lakukan Kegiatan 10.1 secara berkelompok. Sebelumnya bentuklah satu
kelompok yang terdiri 4 siswa; 2 laki-laki dan 2 perempuan.
Kegiatan : Mengamatai Gejala Energi Listrik
Tujuan:
1. Mengamati hubungan energi listrik dengan
hambatan, tegangan, kuat arus, dan waktu
2. Menunjukkan perubahan energi listrik menjadi
energi bentuk lain (panas)
Alat dan Bahan:
– Baterai 6 buah
–
Reostat
–
Amperemeter
–
Kawat nikelin
–
Sakelar
–
Termometer
–
Voltmeter
–
Stopwatch
Cara Kerja:
1.
Lilitkan kawat nikelin pada badan termometer kemudian susunlah alat
seperti gambar.
2.
Pasang dua baterai dan catatlah suhu awal termometer ke dalam tabel.
3.
Hidupkan sakelar bersamaan menghidupkan stopwatch dan catat kenaikan suhu
setiap 5 menit.
4.
Catat kuat arus dan tegangan yang terukur pada amperemeter dan voltmeter.
5.
Matikan sakelar dan ulangi langkah 1 s.d 4 sesuai data dalamtabel pengamatan.
6.
Catatlah hasil pengamatan kelompokmu pada sebuah tabel di buku kerjamu.
Pertanyaan:
1.
Bagaimanakah pengaruh tegangan, kuat arus, jumlah lilitan dan waktu
terhadap kenaikan suhu termometer?
2.
Nyatakan kesimpulan kelompokmu dalam buku kerjamu.
3.
Diskusikan hasilnya dengan kelompokmu. Kemudian bandingkan dengan hasil
diskusi kelompok lain.
Jika
kegiatan tersebut kamu lakukan dengan cermat, akan kamu peroleh hubungan
antara tegangan, kuat arus, jumlah lilitan, dan waktu terhadap kenaikan
suhu. Kenaikan suhu makin besar jika tegangan membesar, kuat arus
membesar, dan waktu makin lama. Dengan demikian, besar energi listrik
dapat ditulis dalam bentuk persamaan berikut.
W
= V × I × t
Dengan:
W=
besar energi listrik (joule)
V=
besar tegangan listrik (volt)
I =
besar kuat arus listrik (ampere)
t =
selang waktu (sekon)
Berdasarkan
rumus di atas dapat dikatakan bahwa besar energi listrik bergantung oleh
tegangan listrik, kuat arus listrik, dan waktu listrik mengalir. Energi
listrik akan makin besar, jika tegangan dan kuat arus makin besar serta
selang waktu makin lama. Karena menurut Hukum Ohm V
= IR, maka persamaan tersebut dapat diturunkan menjadi
persamaan berikut.
Dapatkah kamu membuktikan kebenaran penurunan rumus di
atas? Satuan energi listrik dalam SI adalah joule (J). Adapun,
satuan energi listrik yang sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari adalah kWh (kilowatt hour atau kilowatt jam). Dalam hal
ini
1 kWh = 1 kilo × 1 watt × 1 jam
= 1.000 × 1 watt × 3.600 sekon
= 3.600.000 watt sekon
= 3,6 ×106 joule
Selain itu dalam kehidupan sehari-hari, energi listrik
sering dimanfaatkan sebagai pemanas (misalnya setrika, solder,
atau heater)
Contoh Soal Energi Listrik
1. Lampu yang dipasang di ruang tamu rumah Bapak
Budi tegangannya 220 V mengalir arus listrik 2 A selama 5 menit.
Tentukan besar energi listrik yang diperlukan lampu
untuk menyala dengan baik.
Penyelesaian:
Diketahui:
V= 220 V
I = 2 A
t = 5 menit = 300 s
Ditanyakan:
W = … ?
Jawab:
W = V × I × t
W = 220 × 2 × 300
W = 132.000 J = 132 kJ
W = 132.000 J = 132 kJ
3.) SUHU
Suhu
atau biasa disebut juga dengan temperatur merupakan derajat panas atau dingin
dari suatu benda. Suhu suatu benda tergantung pada energi kinetik (gerak) dari
molekul-molekul benda yang ada di dalamnya. Suhu suatu benda biasanya dinyatakan
dalam satuan derajat Celcius. Dan, untuk mengukur suhu kita dapat menggunakan
alat yang disebut termometer.
Ada
beberapa skala satuan suhu, misalnya Celcius (C), Reamur (R), Fahrenheit (F),
dan Kelvin (K).
Diantara skala satuan suhu tersebut, skala Celcius merupakan skala yang paling
banyak dipakai di berbagai negara di seluruh dunia, kecuali negara-negara yang
berbahasa Inggris, mereka umumnya menggunakan skala Fahrenheit.
Satuan Celcius ditetapkan oleh seorang ilmuwan Swedia
bernama Celcius yang melakukan pengukuran dengan mengambil es yang sedang
mencair sebagai titik bawah yang disebut 0 derajat Celcius, sedangkan titik
atasnya adalah suhu air yang sedang mendidih pada tekanan 76 cmHg yang disebut
100 derajat Celcius. Dari skala Celcius tersebut, suhu suatu benda dapat
dinyatakan (dikonversi) ke dalam skala lainnya dengan rumus (formula) tertentu
yang sudah ditetapkan.
1.
Termometer skala Celcius
Merupakan termometer yang menggunakan skala Celcius (C).
Merupakan termometer yang menggunakan skala Celcius (C).
Titik
didih air: 100 derajat Celcius (100 C)
Titik beku: 0 derajat Celcius (0 C)
Titik beku: 0 derajat Celcius (0 C)
Dari
0 derajat Celcius sampai 100 derajar Celcius dibagi dalam 100 skala.
2.
Termometer skala Reamur
Merupakan termometer yang menggunakan skala Reamur (R).
Merupakan termometer yang menggunakan skala Reamur (R).
Titik
didih air: 80 derajat Reamur (80 R)
Titik bekunya: 0 derajat Reamur (0 R)
Titik bekunya: 0 derajat Reamur (0 R)
Dari
0 derajat Reamur sampai 80 derajar Reamur dibagi dalam 80 skala.
3.
Termometer skala Fahrenheit
Merupakan termometer yang menggunakan skala Fahrenheit (F).
Merupakan termometer yang menggunakan skala Fahrenheit (F).
Titik
didih air: 212 derajat Fahrenheit (212 F)
Titik bekunya: 32 derajat Fahrenheit (32 F)
Titik bekunya: 32 derajat Fahrenheit (32 F)
Dari
32 derajat Fahrenheit sampai 212 derajar Fahrenheit dibagi dalam 180 skala.
4.
Termometer skala Kelvin
Merupakan termometer yang menggunakan skala Kelvin (K).
Merupakan termometer yang menggunakan skala Kelvin (K).
Titik
didih air: 373 Kelvin (373 K)
Titik bekunya: 273 Kelvin (273 K)
Titik bekunya: 273 Kelvin (273 K)
Dari
273 Kelvin sampai 373 Kelvin dibagi dalam 100 skala.
Konversi
Suhu
Konversi
suhu merupakan cara untuk menyatakan suhu suatu benda dari satu skala ke dalam
skala lainnya. Jadi, suhu suatu benda dalam Celcius dapat dikonversi (diubah)
ke dalam skala lainnya yaitu Reamur, Fahrenheit, dan Kelvin. Untuk mengonversi
(mengubah) suhu dari satu skala ke skala lain, dapat menggunakan rumus atau
formula tertentu yang sudah ditetapkan.
§ Konversi
Suhu dari Celcius (C) ke Reamur (R)
Rumusnya
adalah :
R
= (4/5) C
R =
suhu dalam skala Reamur
C = suhu dalam skala Celcius
C = suhu dalam skala Celcius
Contoh:
Suhu suatu benda dalam skala Celcius menunjukkan 100 C. Bila dikonversi ke
dalam skala Reamur (R) adalah:
R =
(4/5) C
R = (4/5) 100 = 80 R
R = (4/5) 100 = 80 R
Jadi,
suhu benda yang menunjukkan angka 100 dalam skala Celcius (C) sama dengan 80
dalam skala Reamur (R).
§ Konversi
Suhu dari Celcius (C) ke Fahrenheit (F)
Rumusnya
adalah:
F
= (9/5) C + 32
F =
suhu dalam skala Fahrenheit
C = suhu dalam skala Celcius
C = suhu dalam skala Celcius
Contoh:
Suhu suatu benda dalam skala Celcius menunjukkan 100 C. Bila dikonversi ke
dalam skala Fahrenheit (F) adalah:
F =
(9/5) C + 32
F = (9/5) 100 + 32 = 212 F
F = (9/5) 100 + 32 = 212 F
Jadi,
suhu benda yang menunjukkan angka 100 dalam skala Celcius (C) sama dengan 212
dalam skala Fahrenheit (F).
§ Konversi
Suhu dari Celcius (C) ke Kelvin (K)
Rumusnya
adalah:
K
= C + 273
K =
suhu dalam Kelvin
C = suhu dalam Celcius
C = suhu dalam Celcius
Contoh:
Suhu suatu benda dalam skala Celcius menunjukkan 100 C. Bila dikonversi ke
dalam Kelvin (K) adalah:
K =
C + 273
K = 100 + 273 = 373 K
K = 100 + 273 = 373 K
Jadi,
suhu benda yang menunjukkan angka 100 dalam skala Celcius (C) sama dengan 373
dalam skala Kelvin (K).
Tak
hanya dari skala Celcius (C), konversi juga dapat dilakukan dari skala lainnya
yaitu Reamur (R), Fahrenheit (F), dan Kelvin (K).
Secara
ringkas, rumus untuk mengkonversi suhu dari skala satu ke skala lainnya adalah:
§ Konversi
suhu dari Celcius (C) ke Reamur (R), Fahrenheit (F), dan
Kelvin (K) adalah:
R
= (4/5) C
F = (9/5) C + 32
K = C + 273
F = (9/5) C + 32
K = C + 273
§ Konversi
suhu dari Reamur (R) ke Celcius (C), Fahrenheit (F), dan
Kelvin (K) adalah:
C
= (5/4) R
F = (9/4) R + 32
K = C + 273 = (5/4) R + 273
F = (9/4) R + 32
K = C + 273 = (5/4) R + 273
§ Konversi
suhu dari Fahrenheit (F) ke Celcius (C), Reamur (R), dan Kelvin
(K) adalah:
C
= 5/9 (F-32)
R = 4/9 (F-32)
K = 5/9 (F-32) + 273
R = 4/9 (F-32)
K = 5/9 (F-32) + 273
§ Konversi
suhu dari Kelvin (K) ke
Celcius (C), Reamur (R), Fahrenheit (F) adalah:
C
= K – 273
R = 4/5 (K-273)
F = 9/5 (K-273) + 32
R = 4/5 (K-273)
F = 9/5 (K-273) + 32
4.) ENERGI KINETIK
Setiap benda yang
bergerak memiliki energi. Ketapel yang ditarik lalu dilepaskan sehingga batu
yang berada di dalam ketapel meluncur dengan kecepatan tertentu. Batu yang
bergerak tersebut memiliki energi. Jika diarahkan pada ayam tetangga maka
kemungkinan besar ayam tersebut lemas tak berdaya akibat dihajar batu. Pada
contoh ini batu melakukan kerja pada ayam ;) Kendaraan beroda yang bergerak
dengan laju tertentu di jalan raya juga memiliki energi kinetik. Ketika dua
buah kendaraan yang sedang bergerak saling bertabrakan, maka bisa dipastikan
kendaraan akan digiring ke bengkel untuk diperbaiki. Kerusakan akibat tabrakan
terjadi karena kedua mobil yang pada mulanya bergerak melakukan usaha / kerja
satu terhadap lainnya. Ketika tukang bangunan memukul paku menggunakan martil,
martil yang digerakan tukang bangunan melakukan kerja pada paku.
Setiap benda yang
bergerak memberikan gaya pada benda lain dan memindahkannya sejauh jarak
tertentu. Benda yang bergerak memiliki kemampuan untuk melakukan kerja,
karenanya dapat dikatakan memiliki energi. Energi pada benda yang bergerak
disebut energi kinetik. Kata kinetik berasal dari bahasa yunani, kinetikos,
yang artinya “gerak”. ketika benda bergerak, benda pasti memiliki kecepatan.
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa energi kinetik merupakan energi
yang dimiliki benda karena gerakannya atau kecepatannya.
Sekarang mari kita turunkan persamaan Energi Kinetik.
Sekarang mari kita turunkan persamaan Energi Kinetik.
Untuk menurunkan persamaan
energi kinetik, bayangkanlah sebuah benda bermassa m sedang bergerak pada
lintasan lurus dengan laju awal vo.
Agar benda
dipercepat beraturan sampai bergerak dengan laju v maka pada benda tersebut
harus diberikan gaya total yang konstan dan searah dengan arah gerak benda
sejauh s. Untuk itu dilakukan usaha alias kerja pada benda tersebut sebesar W =
F s. Besar gaya F = m a.
Karena benda
memiliki laju awal vo, laju akhir vt dan bergerak sejauh s, maka untuk
menghitung nilai percepatan a, kita menggunakan persamaan vt2 = vo2 + 2as.
Kita subtitusikan nilai percepatan a ke dalam persamaan gaya F = m a, untuk menentukan besar usaha :
Kita subtitusikan nilai percepatan a ke dalam persamaan gaya F = m a, untuk menentukan besar usaha :
Persamaan ini
menjelaskan usaha total yang dikerjakan pada benda. Karena W = EK maka kita
dapat menyimpulkan bahwa besar energi kinetik translasi pada benda tersebut
adalah :
W = EK = ½ mv2 —–
persamaan 2
Persamaan 1 di
atas dapat kita tulis kembali menjadi :
Persamaan 3
menyatakan bahwa usaha total yang bekerja pada sebuah benda sama dengan
perubahan energi kinetiknya. Pernyataan ini merupakan prinsip usaha-energi.
Prinsip usaha-energi berlaku jika W adalah usaha total yang dilakukan oleh
setiap gaya yang bekerja pada benda. Jika usaha positif (W) bekerja pada suatu
benda, maka energi kinetiknya bertambah sesuai dengan besar usaha positif
tersebut (W). Jika usaha (W) yang dilakukan pada benda bernilai negatif, maka
energi kinetik benda tersebut berkurang sebesar W. Dapat dikatakan bahwa gaya
total yang diberikan pada benda di mana arahnya berlawanan dengan arah gerak
benda, maka gaya total tersebut mengurangi laju dan energi kinetik benda. Jika
besar usaha total yang dilakukan pada benda adalah nol, maka besar energi
kinetik benda tetap (laju benda konstan).
Contoh soal 1 :
Sebuah bola sepak bermassa 150 gram ditendang oleh Ronaldo dan bola
tersebut bergerak lurus menuju gawang dengan laju 30 m/s. Hitunglah :
a) energi kinetik bola tersebut
a) energi kinetik bola tersebut
b) berapa usaha yang dilakukan Ronaldo pada bola untuk mencapai laju
ini, jika bola mulai bergerak dari keadaan diam ?
panduan jawaban :
a) Energi Kinetik
bola
EK= ½ mv2 = ½
(0,15 kg) (30 m/s2)2 = 67,5 Joule
b) Usaha total
W = EK2 – EK1
EK2 = 67,5 Joule
Dengan demikian, usaha total :
W = 67,5 Joule – 0 = 67,5 Joule

Contoh soal 2 :
Berapa usaha yang diperlukan untuk mempercepat gerak sepeda motor bermassa 200 kg dari 5 m/s sampai 20 m/s ?
Panduan jawaban :
Pertanyaan soal di atas adalah berapa usaha total yang diperlukan untuk mempercepat gerak motor.
W = EK2 – EK1
Sekarang kita hitung terlebih dahulu EK1 dan EK2
EK1 = ½ mv12 = ½ (200 kg) (5 m/s)2 = 2500 J
EK2 = ½ mv22 = ½ (200 kg) (20 m/s)2 = 40.000 J
Energi total :
W = 40.000 J – 2.500 J
W = 37.500 J
5.) USAHA
Usaha adalah besarnya energi yang diberikan oleh suatu gaya untuk merubah
posisi suatu benda sehingga benda tersebut dikatakan bergerak. Dalam ilmu
fisika, usaha pada umumnya dilambangkan dengan huruf W, merupakan singkatan
dari bahasa Inggriswork yang artinya kerja. Secara sederhana, usaha merupakan
hasil kali gaya dengan perpindahan. Usaha merupakan besaran skalar namun dapat
bernilai positif atau negatif bergantung pada arah gaya dan perpindahan. Jika
gaya yang menghasilkan usaha melawan arah gerak atau arah perindahan, maka gaya
dikatakan melakukan usaha negatif. Sebaliknya, jika gaya yang melakukan usaha
searah dengan arah gerak atau arah perpindahan, maka usaha yang dilakukan
adalah usaha positif.
Rumus Dasar Usaha
Dari uraian di atas maka usaha dapat dibedakan
menjadi dua jenis yaitu :
Usaha Positif
Usaha positif merupakan sebuah usaha
bernilai positif. Usaha seperti ini dilakukan oleh gaya yang arahnya searah
dengan arah perpindahan atau membentuk sudut 0o. Untuk gaya yang searah, maka
rumus usaha adalah W = F. s. Contoh usaha positif antara lain seorang anak
mendorong meja, usaha mesin mobil saat menghidupkan mobil sehingga memiliki
kecepatan, usaha mengangkat buku ke atas dan lain sebagainya.
Contoh
Seorang murid mendorong sebuah meja
untuk meluruskan susunannya. Jika ia mendorong meja tersebut dengan gaya 80 N
dan meja berpindah sejauh 200 cm, berapakah usaha yang dilakukan murid tersebut
?
Pembahasan
Dik
:
F=80N
s=200cm=0,2m
Jawab
:
W=F.s
W=80(0,2)
W
= 16 Joule.
Usaha Negatif
Usaha negatif merupakan usaha yang
dilakukan oleh gaya yang arahnya berlawanan dengan arah perpindahan atau
membentuk sudut 180o. Contoh usaha negatif antara lain usaha yang dilakukan
oleh rem untuk menghentikan mobil, usaha yang dilakukan gaya gesekan, dan lain
sebagainya.
Contoh
Sebuah mobil yang sedang bergerak
dengan kecepatan awal v. Bila pada jarak 20 m di depan mobil terdapat lampu
merah, tentukan usaha yang dilakukan rem mobil untuk menghentikan mobil. Gaya
pengereman yang dibutuhkan adalah 240 N.
Pembahasan
Dik :
F = 240 N
s = 20 m
Karena gaya yang dilakukan oleh rem
berlawanan arah dengan arah gerak atau perpindahan, maka sudut yang dibentuk
oleh gaya terhadap perpindahan adalah 180o. Karena cos 180o = -1, maka :
W = - F s.
W = - 240 (20)
W = - 4800 Joule.
Berikut adalah keseluruhan syntax
program perhitungan 5 materi fisika diatas:
import java.util.Scanner;
public class tugasUTS{
public
static void main(String args[]){
Scanner
simpan = new Scanner (System.in);
String
loop, loop1, loop2, loop3, loop4, loop5;
for(loop
= "Y"; loop.equals("Y") || loop.equals("y");)
{
System.out.println("Pilih
Salah Satu Materi Fisika");
System.out.println("=================================");
System.out.println("| 1. Daya Listrik |");
System.out.println("| 2. Energi Listrik |");
System.out.println("| 3. Konversi Suhu |");
System.out.println("| 4. Energi Kinetik |");
System.out.println("| 5. Usaha |");
System.out.println("| 6. Exit |");
System.out.println("=================================");
System.out.print("Pilih
Menu 1 s/d 6 : ");
int
pilihan = simpan.nextInt();
int
W, kJ, C, F, R, K;
double
p, v, i, EK, EK1, EK2, W2, Wpos, Wneg;
switch(pilihan){
case
1 :
for(loop1
= "Y"; loop1.equals("Y") || loop1.equals("y");)
{
System.out.println(" Persamaan Menghitung Daya Listrik :");
System.out.println(" P = V x I ");
System.out.println(" Dimana :");
System.out.println(" P = Daya Listrik. Satuan Watt (W)");
System.out.println(" V = Tegangan Listrik. Satuan Volt (V)");
System.out.println(" I = Kuat Arus Listrik. Satuan Ampere
(A)");
System.out.print("Apa
yang ingin anda cari? (P/V/I) : "; String
menu = simpan.next();
if(menu.equals("P")
|| menu.equals("p")){
System.out.print(" Masukkan Nilai V (Volt) : ");
double
volt = simpan.nextDouble();
System.out.print(" Masukkan Nilai I (Ampere) : ");
double
ampere = simpan.nextDouble();
p
= volt*ampere;
System.out.print(" Besar Daya Listrik adalah "+p+"
Watt");
System.out.println();
}else
if(menu.equals("V") || menu.equals("v")){
System.out.print(" Masukkan Nilai P (Watt) : ");
double
watt = simpan.nextDouble();
System.out.print(" Masukkan Nilai I (Ampere) : ");
double
ampere = simpan.nextDouble();
v
= watt/ampere;
System.out.print(" Besar Tegangan Listrik adalah "+v+"
Volt");
System.out.println(); ;
}else
if(menu.equals("I") || menu.equals("i")){
System.out.print(" Masukkan Nilai P (Watt) : ");
double
watt = simpan.nextDouble();
System.out.print(" Masukkan Nilai V (Volt) : ");
double
volt = simpan.nextDouble();
i
= watt/volt;
System.out.print(" Kuat Arus Listrik adalah "+i+"
Ampere");
System.out.println();
}else{
System.out.println(" Maaf Input Salah");
}
System.out.print("Apakah
Anda ingin melakukan hitungan lagi? (Y/T) : ");
loop1
= simpan.next();
}
break;
case
2 :
for(loop2
= "Y"; loop2.equals("Y") || loop2.equals("y");)
{
System.out.println(" Persamaan Menghitung Energi Listrik :");
System.out.println(" 1. W = V x I x t "); System.out.println(" 2.
W = I^2 x R x t");
System.out.println(" 3. W = V^2 x t / R ");
System.out.println(" Dimana :");
System.out.println(" W = Besar Energi Listrik. Satuan Joule (J) /
kiloJoule (kJ)");
System.out.println(" V = Tegangan Listrik. Satuan Volt (V)");
System.out.println(" I = Kuat Arus Listrik. Satuan Ampere
(A)");
System.out.println(" t = Waktu. Satuan Sekon (s)");
System.out.println(" R = Hambatan Listrik. Satuan Ohm");
System.out.print("Rumus
mana yang ingin anda gunakan? (1/2/3) : ");
int
menu2 = simpan.nextInt();
if(menu2==1){
System.out.print(" Masukkan Nilai V (Volt) : ");
int
volt = simpan.nextInt();
System.out.print(" Masukkan Nilai I (Ampere) : ");
int
ampere = simpan.nextInt();
System.out.print(" Masukkan Nilai t (Sekon) : ");
int
sekon = simpan.nextInt();
W
= volt*ampere*sekon;
kJ
= W/1000;
System.out.print(" Besar Energi Listrik adalah "+W+"
Joule = "+kJ+" kJ");
System.out.println();
}else
if(menu2==2){
System.out.print(" Masukkan Nilai I (Ampere) : ");
int
ampere = simpan.nextInt();
System.out.print(" Masukkan Nilai R (Ohm) : ");
int
ohm = simpan.nextInt();
System.out.print(" Masukkan Nilai t (Sekon) : ");
int
sekon = simpan.nextInt();
W
= (ampere*ampere)*ohm*sekon;
kJ
= W/1000;
System.out.print(" Besar Energi Listrik adalah "+W+"
Joule = "+kJ+" kJ");
System.out.println(); ;
}else
if(menu2==3){
System.out.print(" Masukkan Nilai V (Volt) : ");
int
volt = simpan.nextInt();
System.out.print(" Masukkan Nilai t (Sekon) : ");
int
sekon = simpan.nextInt();
System.out.print(" Masukkan Nilai R (Ohm) : ");
int
ohm = simpan.nextInt();
W
= ((volt*volt)*sekon)/ohm;
kJ
= W/1000;
System.out.print(" Besar Energi Listrik adalah "+W+"
Joule = "+kJ+" kJ");
System.out.println();
}else{
System.out.println(" Maaf Input Salah");
}
System.out.print("Apakah
Anda ingin melakukan hitungan lagi? (Y/T) : ");
loop2
= simpan.next();
}
break;
case 3 :
for(loop3
= "Y"; loop3.equals("Y") || loop3.equals("y");)
{
System.out.println(" Aplikasi Konversi Suhu");
System.out.println(" 1. Celcius (C)");
System.out.println(" 2. Reamur (R)");
System.out.println(" 3. Fahrenheit (F)");
System.out.println(" 4. Kelvin (K)");
System.out.print("Masukkan
Jenis Suhu yang ingin dikonversi (1/2/3/4) : ");
int
menu3 = simpan.nextInt();
if(menu3==1){
System.out.print("Masukkan
Nilai Celsius (C) : ");
int
c = simpan.nextInt();
R
= (4*c)/5;
F
= ((9*c)/5) + 32;
K
= c + 273;
System.out.println();
System.out.println(+c+"
Celsius sama dengan, "+R+" Reamur");
System.out.println(" "+F+" Fahrenheit");
System.out.println(" "+K+" Kelvin");
System.out.println();
}else
if(menu3==2){
System.out.print("Masukkan
Nilai Reamur (R) : ");
int
r = simpan.nextInt();
C
= (5*r)/4;
F
= ((9*r)/4) + 32;
K
= ((5*r)/4) + 273;
System.out.println();
System.out.println(+r+"
Reamur sama dengan, "+C+"
Celcius");
System.out.println(" "+F+" Fahrenheit");
System.out.println(" "+K+" Kelvin");
System.out.println();
}else
if(menu3==3){
System.out.print("Masukkan
Nilai Fahrenheit (F) : ");
int
f = simpan.nextInt();
C
= ((f-32)*5)/9 ;
R
= ((f-32)*4)/9 ;
K
= (((f-32)*5)/9)+ 273;
System.out.println();
System.out.println(+f+"
Fahrenheit sama dengan,
"+C+" Celcius");
System.out.println(" "+R+"
Reamur");
System.out.println(" "+K+"
Kelvin");
System.out.println();
}else
if(menu3==4){
System.out.print("Masukkan
Nilai Kelvin (K) : ");
int
k = simpan.nextInt();
C
= k-273;
R
= ((k-273)*4)/5;
F
= (((k-273)*9)/5)+32;
System.out.println();
System.out.println(+k+"
Kelvin sama dengan, "+C+" Celcius");
System.out.println(" "+R+" Reamur");
System.out.println(" "+F+" Fahrenheit"); System.out.println();
}else{
System.out.println(" Maaf Input Salah");
}
System.out.print("Apakah
Anda ingin melakukan hitungan lagi? (Y/T) : ");
loop3
= simpan.next();
}
break;
case
4 :
for(loop4
= "Y"; loop4.equals("Y") || loop4.equals("y");)
{
System.out.println(" Rumus Menghitung Energi Kinetik (EK) &
Energi Total (W)");
System.out.println(" 1. Energi Kinetik, dimana laju awal benda
adalah diam");
System.out.println(" EK= 0.5 x m x v^2 , dengan EK2 = W
dan EK1 = 0");
System.out.println(" 2. Energi Kinetik, pada benda yang
mengalami percepatan");
System.out.println(" EK1= 0.5 x m x v0^2");
System.out.println(" EK2= 0.5 x m x vt^2 , dengan W =
EK2 - EK1");
System.out.println(" Dimana :");
System.out.println(" m = massa benda (Kg)");
System.out.println(" v = laju benda (m/s)");
System.out.println(" v0 = laju awal benda");
System.out.println(" vt = laju akhir benda");
System.out.print("Rumus
mana yang ingin anda gunakan (1/2) ? : ");
int
menu4 = simpan.nextInt();
if(menu4==1){
System.out.print(" Masukkan Nilai m (Kg) : ");
double
kilo = simpan.nextDouble();
System.out.print(" Masukkan Nilai v (m/s) : ");
double
laju = simpan.nextDouble();
EK1
= 0;
EK
= 0.5*kilo*laju*laju;
W2
= EK-EK1;
System.out.println();
System.out.println(" Nilai Energi Kinetik adalah "+EK+"
Joule\n");
System.out.println(" Usaha Totalnya adalah "+W2+"
Joule");
}else
if(menu4==2){
System.out.print(" Masukkan Nilai m (Kg) : ");
double
kilo = simpan.nextDouble();
System.out.println(" Masukkan Nilai v (m/s)");
System.out.print(" v awal : ");
double
vawal = simpan.nextDouble();
System.out.print(" v akhir : ");
double
vakhir = simpan.nextDouble();
EK1
= 0.5*kilo*vawal*vawal;
EK2
= 0.5*kilo*vakhir*vakhir;
W2
= EK2-EK1;
System.out.println();
System.out.println(" Nilai Energi Kinetik awal adalah
"+EK1+" Joule");
System.out.println(" Nilai Energi Kinetik akhir adalah
"+EK2+" Joule");
System.out.println(" Usaha Totalnya adalah "+W2+"
Joule");
}else{
System.out.println(" Maaf Input Salah");
}
System.out.print("Apakah
Anda ingin melakukan hitungan lagi? (Y/T) :");
loop4
= simpan.next();
}
break;
case
5 :
for(loop5
= "Y"; loop5.equals("Y") || loop5.equals("y");)
{
System.out.println(" Menghitung Usaha");
System.out.println(" 1. Usaha Positif (W = F x s)");
System.out.println(" 2. Usaha Negatif (W = -F x s)");
System.out.println(" Dimana :");
System.out.println(" F = Gaya (Newton)");
System.out.println(" s = Jarak Perpindahan Benda
(Meter)");
System.out.print("Rumus
mana yang ingin anda gunakan (1/2) ? : ");
int
menu5 = simpan.nextInt();
if(menu5==1){
System.out.print(" Masukkan Nilai F (N) : ");
double gaya = simpan.nextDouble();
System.out.print(" Masukkan Nilai s (m) : ");
double
meter = simpan.nextDouble();
Wpos
= gaya*meter;
System.out.println();
System.out.println(" Usaha yang dilakukan adalah sebesar
"+Wpos+" Joule\n");
}else
if(menu5==2){
System.out.print(" Masukkan Nilai F (N) : ");
double
gaya = simpan.nextDouble();
System.out.print(" Masukkan Nilai s (m) : ");
double
meter = simpan.nextDouble();
Wneg
= (-1*gaya)*meter;
System.out.println();
System.out.println(" Usaha yang dilakukan adalah sebesar
"+Wneg+" Joule\n");
}else{
System.out.println(" Maaf Input Salah");
}
System.out.print("Apakah
Anda ingin melakukan hitungan lagi? (Y/T) : ");
loop1
= simpan.next();
}
break;
case
6 :
break;
default :
System.out.println("Maaf
Input Salah");
}
System.out.print("Apakah
Anda ingin menggunakan aplikasi lagi? (Y/T) : ");
loop
= simpan.next();
}
}
}











Tidak ada komentar:
Posting Komentar